Selasa, 26 Oktober 2010

Ada sebuah permata.....


Ada sebuah permata di hati orang ber Iman
Yang saat ia merasakan kelezatannya
Segalanya terasa begitu indah.
Permata itu adalah " Iman ".
Saat Iman meraja, tak ada lagi duka dan derita.
Ini bukan karena tak ada luka perih dan kepedihan
Memang Luka dan duka itu ada
Namun luka tiada lagi terasakan
karena terselimuti kesadaran
Akan kenikmatan yang akan diperoleh kelak
Sebagai hadiah yang tak tak ternilai dari sang Maha Pencipta

Jumat, 22 Oktober 2010

Video Samar Live

 VIDEO JALSA



























Samar di rumah ana, Tegal.
Jl.Projosumarto II Rt : 04/01 Ds.Langgen-Kec.Talang-Kab.Tegal


















Fahad bin madhi - Pekalongan
















Abdullah Ta'lab

 

 

 

 

Selasa, 19 Oktober 2010

Bila tak sanggup meminangnya, cukup cintai ia dalam diam

Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang,
cukup cintai ia dalam diam ..

karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ..
kau ingin memuliakan dia,
dengan tidak mengajakanya menjalin hubungan yang terlarang (pacaran),
kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya.

karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu ..
menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..

karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ..

ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ??
yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ..
tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah ..

.............

karena dalam diammu tersimpan kekuatan ..
kekuatan harapan ..
hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ..
bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yanng berharap padanya ??

dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata,
biarkan ia tetap diam ..

jika dia memang bukan milikmu,
toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ..

biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu
menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ..

Senin, 18 Oktober 2010

"Bila Lamaran Ditolak Calon Mertua......"

Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.

Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk

melanjutkannya menuju khitbah.



Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.

Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru

pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang

sekarang amatlah berbeda.



Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka

menggenapkan agamanya.



Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang

lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'

sang perempuan muda, dari sisinya.



"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.

"Iya, Pak," jawab sang muda.



"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? " tanya sang setengah baya

sambil menunjuk si perempuan.



"Ya Pak, sangat mengenalnya, " jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak

bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model

seperti itu!" balas sang setengah baya.



Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal

sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."



"Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku

takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.

Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,

keras.



Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang

lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."



"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.

"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di

Kampus," jawab sang muda, percaya diri.

"Lamaranmu kutolak.



Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama

istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo

rumahku ini kan?"



"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak

yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."

"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok

mau ngatur keluargamu?"



Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."

"Kamu lulusan mana?"

"Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus

terbaik di Indonesia lho Pak."



"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM

ini tho? Menganggap saya bodoh kan?"



"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya

saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."

"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik

anak-anakmu kelak?"



Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."

"Jadi kamu sudah bekerja?"

"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera

jualan produk saya Pak."



"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu

nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."

"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak

terlalu laku."

"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,

kalau kerja saja nggak becus begitu?"



Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."

"Rencananya maharmu apa?"

"Seperangkat alat shalat Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."

"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan

uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."



Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"

"Kamu bisa apa itu, internet?"

"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak

saya nge-net."

"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan

anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."

"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."

"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,

Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."



Bisikan, "Tapi Ayah..."

"Kamu kesini tadi naik apa?"

"Mobil Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya

Riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."

"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"

"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini

namanya payah. Memangnya anakku supir?"



Bisikan, "Ayahh.."

"Kamu merasa ganteng ya?"

"Nggak Pak. Biasa saja kok"

"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang

cantik ini."

"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."

"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"



Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan

soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang

muda yang sudah menyerah pasrah.

"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.

Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh

juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.

Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."

Sang setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu

cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja

pun, aku masih tertatih."

Mata sang muda ikut berkaca-kaca.

Jumat, 17 September 2010

Sebuah Harapan Untukku...

Saat ini aku sedang berusaha mengumpulkan kembali serpihan-serpihan diri ini yang telah lama berserakan, berusaha membangun kembali rasa percaya diri yang telah lama runtuh oleh badai kemaksiatan yang selama ini aku perbuat, diriku kini mencoba untuk merajut kembali benang-benang kehidupan yang sudah lama merapuh agar dapat terlihat indah dan membuat diriku menjadi berarti kembali dalam menjalani kehidupan ini…Yaa Robb diri ini sangatlah lemah maka berikanlah kepadaku kekuatan, diri ini sangatlah hina maka berikanlah kepadaku kemuliaan dari-Mu, diri ini sangatlah fakir maka berikanlah kepadaku kekayaan Oleh-Mu, diri ini sangatlah bodoh maka ajarkanlah kepadaku ilmu-ilmu yang tiada batasnya agar hamba dapat mengenal-Mu lebih dekat Wahai Dzat yang maha Agung. “Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah” Tiada daya dan upaya bagi kami kecuali dengan pertolongan Alloh…”Ilaahi Anta Maqsudii Waridhooka Mathlubii” Wahai Tuhanku engkaulah tujuan kami dan hanya Ridlo-Mu lah yang kami harapkan. Amiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Kamis, 09 September 2010

Seperti Rasul-Mu, Jadikanlah Rendah Hatiku

Setiap pohon yang tidak berbuah, seperti pohon pinus dan pohon cemara, tumbuh tinggi dan lurus, mengangkat kepalanya ke atas, dan semua cabangnya mengarah ke atas. Sedangkan semua pohonnya yang berbuah menundukkan
kepala mereka, dan cabang-cabang mereka mengembang ke samping.

Rasulullah adalah orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, beliau bersabda: “Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.
Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji. Namun beliau tetap saja berdoa, “Wahai Allah, Tuhan kami, bimbinglah umatku ke jalan yang lurus, sebab mereka tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang pernah menyiksanya: “Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan kulakukan terhadapmu?
Mereka menangis dan berkata: “Engkau adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia.Nabi SAW bersabda:“Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian(HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu Hibban, dan Syafi).

Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan membawa semua anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul SAW, maka Ali bin Abi Thalib ra bertanya kepadanya: “Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?Ia menjawab: “Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.� Ali Bertanya: “Mengapa kamu lakukan itu?� Ia menjawab: “Jika Muhammad menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi potongan-potongan kecil.Ali berkata: “Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf: ".Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).(Yusuf: 91).

Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi SAW dan berdiri di dekat kepalanya, lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata: “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan engkau atas kami dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).(Yusuf: 91).

Rasulullah SAW pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya.

Rasulullah menjawab dengan menyitir firman-Nya: Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.(Yusuf: 92).

Wahai sahabatku¦
Di dalam diri Rasulullah terdapat tanda-tanda kebesaran Allah. Aisyah ra mengatakan bahwa Rasulullah ibarat Al Quran yang berjalan. Setiap kata-kata yang keluar begitu menawan hati, melembutkan perasaan dan mengobarkan semangat juang. Segala tingkah lakunya mencerminkan kebaikan; pemaaf, santun, lemah lembut, banyak diam, banyak berpikir dan merenung, halus dalam bertutur kata, dan tegas dalam memegang prinsip kebenaran. “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(Al Qalam: 4).

Ya Allah Ya Tuhanku¦.
Aku tertunduk di atas kursi ini, dengan perasaan penuh tak tentu; memohon, mengharap dengan rasa cemas, rindu yang sebenar-benarnya rindu, cinta yang sebenar-benarnya cinta, petunjuk yang sebenar-benarnya petunjuk. Jadikanlah aku hamba yang lemah lembut dalam bertutur kata, santun dalam berpesan, mengiringi ilmu dengan amal, tidak dengki dengan kebahagiaan manusia, dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan dan kemunafikan.

Wahai Allah Tuhanku¦
Aku dipekaranganMu, ditanahMu, di rumah yang engkau bina dengan nikmatMu.Seperti Rasul-Mu, jadikanlah aku hamba yang rendah hati.
Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/05/kursor-diikuti-jam-dan-tanggal-v2.html#ixzz1eUnkIGUV