Rabu, 16 Februari 2011

Diklatsar WAPALA VI AKATEL

SALAM LESTARI.......!!!!!!!!
Suatu organisasi membutuhkan regenerasi untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Generasi baru dalam organisasi dituntut mempunyai, kekompakan, keterampilan, mental yang sesuai untuk mewujudkan visi dan misi organisasi. Pendidikan Latihan Dasar Wahana Pecinta Alam Akademi Teknik Telekomunikasi Sandhy Putra Purwokerto (DIKLATSAR WAPALA AKATEL) merupakan kegiatan rutin setiap penerimaan anggota baru yang bertujuan menyiapkan anggota WAPALA AKATEL agar mempunyai keterampilan dasar, mental, kekompakan antar anggota untuk mendukung kegiatan yang nantinya dilakukan dalam organisasi, maupun diluar organisasi.
Sebelum peserta diberangkatkan ke hutan selalu ada pembekalan yang biasa disebut sebagai (materi ruang) yang berisi tentang pengetahuan dan praktek seputar kegiatan WAPALA, seperti halnya,
  • Pengetahuan dan sejarah WAPALA AKATEL
  • Navigasi
  • RC & Caving
  • Survival
  • SAR & P3K
Pembekalan yang diberikan pada materi ruang tersebut merupakan penerapan dari beberapa bagian divisi yang terdapat pada WAPALA AKATEL.
Semboyan wapala adalah  “HAMEMAYU HAYUNING BAWANA”, yang berarti bersatu dengan alam dan lingkungan sekitar. Citra itulah yang membuat diri kita paling kecil, sehingga tidak patut dalam diri wapala ada suatu sifat kesombongan.
Diksar VI WAPALA AKATEL tahun 2011 dilaksanakan di lereng Gunung Slamet, di daerah hutan baturaden, dengan diikuti 13 peserta dan didampingi 17 panitia.
Tujuan dari DIKLATSAR WAPALA AKATEL VI adalah :
  1. Memupuk rasa cinta terhadap organisasi
  2. Sebagai ajang membentuk mental dan fisik yang tangguh
  3. Menanamkan jiwa pantang menyerah
  4. Melatih keterampilan dasar lapangan
  5. Menanamkan kekompakan antar anggota
  6. Mempraktekkan teori yang diperoleh dalam Materi Ruang.
Hari pertama diksar adalah kegiatan montenering yang merupakan urutan kegiatan awal sebagai pembekalan ketika akan melaksanakan pengambilan kartu Tanda Anggota (KTA) yang menerapkan sistim wajib gunung, montenering juga mendidik anggota agar mempunyai jiwa pantang menyerah, kompak, dan mewujudkan rasa kekeluargaan yang tinggi. Dengan suara lantang nyayian lagu mars WAPALA, dan HOMPILAHO dapat menaikkan motivasi, sehingga Rasa lelah bukanlah sebuah hambatan untuk menyelesaikan tugas.
Dihari kedua adalah kegiatan pencarian titik suatu lokasi yang biasa disebut sebagai NAVIGASI. Menggunakan kompas bidik, alat tulis, protactor, dan peta kontur. peserta dibagi menjadi 3 tim  dengan 2 panitia sebagai pendamping setiap kelompok. Dengan dibekali peralatan tersebut dan waktu yang telah ditentukan, para peserta dituntut harus menemukan titik yang ditentukan oleh panitia.
Tujuan kegiatan Navigasi tersebut adalah melatih leadership calon anggota, melatih kesabaran, pemikiran positif, dan insting yang tajam dalam berfikir. Tidak heran jika para peserta mampu menemukan titik lokasi tersebut dengan cara pemikiran dan perhitungan menurut logika mereka sendiri.  Letak titik tersebut dapat berupa puncak bukit, tanah landai,  pohon yang tinggi, bongkahan batu, sungai atau aliran air.
Setelah peserta selesai melaksanakan kegiatan Navigasi, peserta dikumpulkan dan diberikan panduan untuk melaksanakan survival (bertahan hidup dialam bebas). Dilepaskan di hutan dengan sedikit perbekalan seperti parang, korek api, ponco dan garam. Dengan berbekal teori pada materi ruang, peserta diharapkan mampu membuat tempat berlindung sementara (shelter), bertahan dan mencukupi kebutuhan mereka sendiri.
Panitia pun mulai menyebar diantara bukit-bukit untuk mengawasi pergerakan peserta.  Dengan survival tersebut para peserta dituntut untuk lebih mandiri terhadap diri dan keluarganya, serta tidak putus asa dan tidak mudah pasrah dengan keadaan.
Dinginnya malam, lapar dan haus tidak menyurutkan semangat dari calon anggota untuk selalu bergerak. Kondisi terburuk inilah yang mampu mendidik mental calon anggota. Dua hari dua malam waktu yang cukup untuk melaksanakan kegiatan survival, walaupun pada pecinta alam lain ada yang menerapkan survival hingga berminggu-minggu. Namun menurut pendapat panitia hal tersebut sama saja jika diartikan menurut jati diri dari arti kata survival.
Setelah peserta selesai melaksanakan survival semua panitia dan peserta berkumpul di tengah api unggun, untuk sharing dan berbagi pengalaman selama kegiatan, kegiatan inilah yang sering dipakai para anggota wapala untuk memahami citra, memupuk kekeluargaan dan menyelesaikan masalah.
Hari keempat adalah kegiatan simulasi Search and Rescue (SAR).  Kegiatan tersebut meliputi segala upaya dan usaha pencarian, pemberian pertolongan, dan penyelamatan jiwa manusia. Dilakukan di bukit Bunder.
Kompetensi dasarnya berupa
  1. Pengetahuan Dasar SAR yang meliputi organisasi SAR, organisasi Operasi SAR, filosofi SAR, dan lain-lain.
  2. Unsur Pencarian (Search).
a)    Teknik Pencarian di Darat.
  1. Unsur Pertolongan/ Penyelamatan (Rescue)
a)    Evakuasi.
b)    Medical First Response.
  1. Unsur Pendukung/Penunjang
a)    Navigasi.
b)    Mountaineering.
c)     Survival.
d)    Komunikasi Lapangan.
e)     Persiapan Perbekalan, Pakaian dan Makanan.
f)      Transportasi
Pencarian dilakukan selama 5 jam dengan kondisi bukit yang rimbun dengan semak-semak , bambu, dan duri. Setelah korban ditemukan dengan melihat kondisi korban tersebut mulailah dipikirkan apa yang perlu dilakukan, simulasi ini cukup bagus karena semua peserta dengan sigap melakukan pertolongan pertama, sebelum korban dievakuasi. Dengan mengumpulkan obat-obatan, tali dan bambu sehingga dibuatlah  tandu untuk mengangkat korban. setelah korban berhasil dievakuasi, Panitiapun menyambut di titik pertemuan.
Setelah materi SAR selesai peserta pun dikumpulkan disebuah  jembatan didesa kalipagu yang disebut jembatan curug gede.
Terlihat panitia pun telah siap memasang tali dan peralatan RC lainnya. Dan mulailah diberikan pengarahan bagaimana cara melakukan rapling yang baik. Rapling merupakan olah raga yang cukup hati-hati, karena yang dihadapi adalah ketinggian, kondisi medan, dan keamanan peralatan yang semuanya sudah diperhitungkan terlebih dahulu.
Rappeling bagi para pemula merupakan ajang untuk  melatih keberanian, dan kesiapan dalam melakasanakan tugas. Mulai dari mengikat tali, memasang ancor, teknik pelaksanaan, dan lain-lain yang diharuskan lebih safety/aman.
Kegiatan diksar telah selesai setelah semua peserta dilantik dan diresmikan sebagai anggota muda WAPALA AKATEL. Tangis dan tawa bahagia menjadi awal pergerakan anggota dalam mengemban tugas dan citra WAPALA AKATEL selanjutnya.

Minggu, 30 Januari 2011

Doa Indah Para Nabi dalam Al Quran

1. Doa Nabi Adam
Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin
Artinya : Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami menjadi orang yang rugi.

2. Doa Nabi Nuh
“ Robbi inni audzubika an as alaka maa laisalli bihi ilmun wa illam tagfirli watarhamni akum minal khosirin “ (surat Hud; 47)
Artinya : Ya Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari sesuatu yang aku tidak mengetahui hakekatnya, dan sekiranya tidak Engkau ampuni dan belas kasih niscaya aku termasuk orang – orang yang merugi

3. Doa Nabi Ibrahim
“ Robbana taqobal minna innaka anta sami’ul alim wa tub alaina innaka antat tawwaburrokhim “ (al baqarah; 128-129)
Artinya : Ya Tuhan kami terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau maha mendengar dan Mengetahui, dan termalah taubat kami, sesungguhnya Engkau penerima taubat lagi Maha Penyayang.
“ Robbi ja alni muqimas sholati wa min dzuriyyati, robbana wa taqobal doa, Robbannagh firli wa li wa li dayya wa li jamiil mukminina yauma yaqumul hisab “ (ibrahim ; 40 -41)
Artinya : Ya Tuhanku jadikanlah aku dan anak cucuku orang – orang yang tetap mendirikan sholat, ya Tuhanku perkenankanlah doaku , ya Tuhanku beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan seluruh orang mukmin, pada hari terjadinya hisab.

4. Doa Nabi Yunnus
“ Lailaha illa anta subhanaka inni kuntum minadh dholimin “ (al anbiya;87)
Artinya : Tidak ada Tuhan Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku orang yang dholim.

5. Doa Nabi Zakariya
“ Robbi latadzarni wa anta choirul warisin “ (an biya ; 89)
Artinya : Ya Allah janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri, sesungguhnya engkau pemberi waris yang paling baik
“ Robbi habli miladunka duriyattan, thoyibatan innaka sami’ud du’a “ (ali imron;28)
Artinya : Ya Tuhan berilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau maha pendengar Doa.

6. Doa Nabi Musa
“ Robis shrohli shodri wa ya shirli amri wah lul uqdatam mil lissani yah khohu khouli “ (Thoha ; )
Artinya : Ya Tuhanku lapangkanlah dadaku, dan lancarkanlah lidahku serta mudahkanlah urusanku
“ Robbi inni dholamtu nafsi fa firlhi “ (al qhosos ; 16)
Artinya : Ya Allah aku menganiaya diri sendiri, ampunilah aku
“ Robbi Naj jini minal qumid dholimin “
Artinya : Ya Tuhan lepaskanlah aku dari kaum yang dholim
“ Robbi ini lima anzalta illayya min khoirin faqir “ (al qhosos; 24)
Artinya : Ya Tuhanku sesungguhnya aku memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku
“ Robbi firli wa li akhi wa adkhilna fi rohmatika, ya arhamar rokhimin “ (
Artinya : Ya Tuhanku ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmatMu, dan Engkau Maha Penyayang diantara yang menyayangi.

7. Doa Nabi Isa
“ Robbana anzil alaina ma idatam minas samai taqunu lana idzal li awalina, wa akhirina, wa ayyatam minka war zukna wa anta khoiru roziqin “ ( al maidah ; 114)
Artinya : Ya Tuhanku turunkanlah pada kami hidangan dari langit, yang turunnya akan menjadi hari raya bagi kami, yaitu bagi orang – orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, berilah kami rejeki dan Engkaulah pemberi rejeki yang paling baik.

8. Doa Nabi Syuaib :
“ Robbana taf bainana, wa baina kaumina bil haqqi , wa anta khoirul fatihin “ (A araf; 89)
Artinya : Berilah keputusan diantara kami dan kaum kami dengan adil, Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik – baiknya.

9. Doa Nabi Ayyub :
“ Robbi inni masyaniyad durru wa anta arhamur rohimin “
Artinya : Bahwasanya aku telah ditimpa bencana, Engkaulah Tuhan yang paling penyayang diantara penyayang.

10. Doa Nabi Sulaiman
“ Robbi auzidni an askhuro ni’matakallati an amta allaya wa ala wa li dayya wa an a’mala sholikhan tardhohu wa ad khilni birrohmatika fi ibadikas sholikhin “ (an naml; 19)
Artinya : Ya Tuhan kami berilah aku ilham untuk selalu mensyukuri nikmatmu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada kedua ibu bapakku dan mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridloi, dan masukkanlah aku dengan rahmatMu kedalam golongan hamba-hambMu yang Sholeh.

11. Doa Nabi Luth
“ Robbi naj jini wa ahli mimma ya’malun “
Artinya : Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari perbuatan yang mereka kerjakan
“ Robbin surni alal kaumil mufsidin “ (assyu araa ; 169)
Artinya : Ya Tuhanku tolonglah aku dari kaum yang berbuat kerusakan

12. Doa Nabi Yusuf
“ Fatiros samawati wal ardli anta fiddunya wal akhiro tawwaffani musliman wa al hiqni bissholihin “
(yusuf ; 101)
Artinya : Wahai pencipta langit dan bumi Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat wafatkanlah aku dalam keadaan pasrah (islam), dan masukkanlah aku dengan orang – orang sholeh.

13. Doa Nabi Muhammad
“ Robbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hassanah wa qina adza bannar “ (hadist)
Artinya : Ya Tuhanku berikanlah aku kebaikan di dunia dan akhirat, dan jauhkanlah aku dari api neraka
“ Robbana latuzig qullubana ba’daidz haddaitana wahabblana miladunka, rohmatan innaka antal wahab” (Ali Imron; 8 )
Artinya : Ya Tuhanku janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan berilah kami rahmat, sesungguhnya Engkau adalah dzat yang banyak pemberiannya.

Sholawat: Cinta Segitiga Allah - Rosulullah - Manusia

Belajar Mengilmui Sholawat
Kita membaca Sholawat mungkin sendiri di kamar, di perjalanan atau ketika sedang larut dalam pekerjaan. Mungkin pula kita membacanya secara berjamaah di surau-surau atau pada acara-acara tertentu di  kampung kita. Umumnya orang tidak hanya membaca Sholawat tetapi juga qoshidah, wirid atau dzikir yang kesemuanya  merupakan karya para auliya atau pujangga lslam yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak berabad-abad yang lalu melalui tradisi Maulid Nabi, pepujian di musholla-musholla atau ditempat dan acara  lainnya. Qosidah bisa bermuatan Sholawat , dzikir atau wirid atau juga kalimat-kalimat ungkapan cinta kepada Allah Swt, Nabi Muhammad Saw atau kepada lslam itu sendiri. Adapun wirid atau dzikir adalah kata-kata yang diungkapkan untuk mengingat Allah, menghayati keagungan-Nya, meminta atau memohon sesuatu kepada-nya. isinya bisa diambil dari ajaran langsung Allah Swt atau merupakan kreasi  atau ciptaan hamba-hamba-Nya.
Kali ini kita memfokuskan diri untuk membicarakan Sholawat secara umum. Tetapi terlebih dahulu kita catat dan tegaskan satu hal mendasar mengenai Sholawat sebelum mengembarai sisi-sisi lainnya. Sebagaimana  shalat, puasa, zakat, haji dan jenis ibadah lainnya, Sholawat itu bukan agama dan bukan tujuan dari apa  yang kita lakukan itu sendiri. Sholawat hanya berposisi - seperti shalat, puasa, zakat, dan haji – sebagai  alat dan cara untuk mengantarkan kita pada tujuan sejati yakni dekat dengan Allah serta berdampingan dengan Rasulullah Saw. Meskipun tentu saja Sholawat tidak berkedudukan seperti ibadah shalat dan puasa yang mahdhoh dan merupakan rukun lslam. Sholawat merupakan thoriqoh atau jalan untuk mengintensifkan dan memperdalam hubungan batin kita dengan, pertama Allah Swt dan kedua Rasulullah Saw. Oleh karena itu yang terpenting dan yang menjadi tolak ukur adalah apakah dengan metode-metode Sholawat ini kita menjadi makin dekat dengan Allah dan Rasulullah atau tidak.
Karena tidak ada seseorang yang sungguh-sungguh sanggup dan bisa menilai orang lain maka kita sendirilah  yang dalam hati dan batin kita masing-masing harus memacu menggembalakan diri sendiri dan rajin meniti perkembangan mutu hubungan kita dengan Allah dan Rasulullah. Maka makin banyak kita mengingat Allah dan Rasulullah dengan dan dalam Sholawat makin bermanfaatlah apa yang kita lakukan dengan Sholawat-Sholawat yang kita baca.
Allah Pelopor Gerakan Sholawat
Sholawat merupakan ungkapan cinta kepada Rasulullah Saw, yang dipelopori langsung oleh Allah Swt sendiri kemudian dikembangkan oleh para pecinta Muhammad Saw. Lewat ayat: lnnalloha wa malaikatahu  yusholuna alan nabiyyi ya ayyuhal ladzina amanu sholu alihi wa sallimu taslima: Alloh menyuruh kita untuk bersholawat kepada Nabi Mumammad sambil Ia tegaskan, bahwa perintah ini pun Ia sendiri (bersama malaikat-Nya) yang memelopori perwujudannya. Ia berbeda dengan perintah-perintah Allah lainnya. Kalau kepada hamba-Nya, Ia menyuruh bersembahyang. Allah sendiri tidak perlu bersembahyang. Kalau Allah memerintahkan hambanya untuk berzakat, Allah sendiri tentu tidak perlu berzakat. Kalau Allah meminta kita untuk berpuasa, Allah sendiri tentu tidak terkena kewajiban berpuasa. Allah tidak melakukan apa yang diperintahkan Dirinya kepada hamba-hamba-Nya.
Tetapi khusus dalam soal Sholawat Allah berpenampilan agak berbeda. la yang menyerukan, Ia yang  memberi contohnya. Allah beserta para malaikat-Nya bersholawat kepada Rasulullah Saw. Demikian besar dan agungnya cinta Allah kepada kekasih-Nya yang bernama Muhammad itu sehingga  Ia sendiri mau bersholawat kepadanya dengan memposisikan diri bukan hanya sebagai yang punya perintah tapi juga sekaligus pelopornya.
Tak hanya itu, kita juga perlu melihat cintanya Allah kepada Muhammad dari kenyataan bahwa: kalau kita  bersembahyang kita mempunyai dua kemungkinan, diterima oleh Allah atau tidak. Begitu juga kalau kita berpuasa, berzakat atau mengerjakan ibadah yang lainnya. Tetapi kalau kita bersholawat itu pasti diterima oleh Allah sekaligus pasti sampai kepada Rasulullah. Dari sisi kita - hamba Allah dan umat Muhammad - Sholawat merupakan ungkapan terima kasih tiada tara kepada Rasulullah Saw yang telah memandu dan memimpin perjalanan kaum Muslimin kepada Allah Swt. Ungkapan cinta kita kepada Rasulullah itu sekaligus juga merupakan perwujudan cinta kita kepada  Allah. Mustahil kita mencintai Allah Swt, tanpa mencintai Rasulullah Saw. Sebab Rasulullah-lah hamba  yang paling dicintai oleh Allah.
Rasulullah Hadir itu Bukan Khayalan
Ketika kita bersholawat kepada Rasulullah Saw maka pada majelis itu Rasulullah hadir. Dan barang siapa yang berada di suatu tempat di mana Rasulullah hadir maka keseluruhan ruang tersebut bebas dari adzab.  Orang barangkali tidak mempercayai kalau Rasulullah itu hadir dengan beranggapan beliau sudah wafat. Jasad atau badan-nya sudah pulang menyatu kembali dengan hakikatnya yakni tanah. Akan tetapi ruh atau  ruhani Rasulullah tetap hidup dan hadir. Kita tidak bisa memandang Rasulullah dengan kaca mata materialisme bahwa segala sesuatu harus bisa dilihat dengan mata wadag, bahwa semuanya harus bisa dipanca-indrai dan bahwa kalau segalanya tak  bisa dipanca-indrai maka sesuatu itu tak ada alias tak maujud, melainkan harus dengan kaca mata  ruhaniah. Dengan demikian ketika kita mendengar kalimat bahwa Rasulullah hadir kita tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang khayal atau mustahil.
Rasulullah Jauh atau Dekat
Sama cara berfikirnya dengan keterangan tentang Rasulullah hadir itu khayal atau tidak, kalau kita membicarakan apakah Rasulullah itu jauh atau dekat maka mata pandang dan ukuran kita bukanlah  pandangan geografis dan fisik, melainkan ruhani. Untuk itu kita harus mengacu pada ayat: Laqod  jaakum rosulun min anfusikum azizun alaihima anittum harishun alaikum bil mukminina roufur rohiim. Sungguh benar-benar telah datang di tengah-tengah kalian seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, yang sangat tak tega menyaksikan penderitaan kalian, amat perhatian terhadap kalian, belas-kasih terhadap orang-orang  yang percaya.
Segera kita catat dari ayat tersebut bahwa, pertama Rasulullah itu orangnya tidak tegaan. Kalau kita  menderita, Rasulullah sangat ikut menderita dan bersedih. Bila kita susah, maka Rasulullah-lah yang pertama-tama turut merasakan kesusahan itu.
Kedua, Rasulullah itu langsung diberi oleh Allah dua sifat yang diambil dari sifat-Nya yaitu roufur-rohiim. Kalau umumnya kita memakai sifat Allah misalnya untuk kepentingan memberikan nama maka kita hanya diizinkan menggunakannya dengan syarat harus diimbuhi dengan misalnya kata Abdul. Misalnya: Abdul Malik, Abdurrahman, Abdul Aziz dan seterusnya. Tetapi khusus untuk Rasulullah, Allah memberinya sifat  kepada Beliau dengan dua sifat-Nya yakni roufur-rohiim. Tentu saja Allah memahkotainya dengan dengan dua sifat tersebut karena memang Rasulullah layak menyandang dua sifat itu. Karena kepribadian  Rasulullah sangat mencerminkan mutu sifat itu, lebih-lebih dalam hubungannya dengan umatnya. Jadi kedekatan Rasulullah itu sedemikian dalamnya dan sedemikian ruhaniahnya. Begitulah kualitas pribadi dan cinta Rasulullah kepada kita.
Segitiga Cinta
Seraya menegaskan kepada sudara-saudara kita yang barangkali cemas kepada sholawat bahwa pertama, sholawat itu tidak menuhankan Muhammad. Kedua, sholawat itu tidak menganggap Muhammad sebagai  anak Tuhan. Kita mempelajari bahwa sesungguhnya yang terjadi adalah adanya segitiga cinta. Di titik atas ada Allah, di titik kanan ada Muhammad Saw dan di titik kiri ada kaum Muslimin. Masing-masing titik itu  disambungkan oleh garis sedemikian rupa sehingga terbentuk segi tiga. Dan segi tiga itu akan bermuatan  cinta, sehingga bisa disebut segitiga cinta.  Nah, sekarang kita lihat. Pada garis pertama, antara Allah dengan Rasulullah. Allah sangat mencintai  Muhammad Saw dan sebaliknya Muhammad pun sangat mencintai Allah sehingga beres aliran cintanya.  Kemudian pada garis kedua antara Allah dengan kaum Muslimin, Allah sangat mencintai kita, tetapi kita  kadang ogah-ogahan kepada Allah. Sehingga Allah sering mengeluh, "Lho, Engkau ini bagaimana wahai  jin dan manusia, Aku yang menciptakan Engkau, tapi Engkau menyembah yang selain Aku. Aku yang memberimu rizki tapi kamu berterima kasih kepada yang selain Aku."
Lantas garis yang ketiga, antara Muhammad dengan kita. Muhammad sangat mencintai kita. Muhammad  melakukan tirakat untuk kita dan agar doanya tentang kita dikabulkan oleh Allah, Muhammad menempuh pengabdian sedemikian rupa supaya Allahpakewuh (merasa tidak enak) kepada Muhammad tertama yang menyangkut nasib kita. Mengapa demikian? Selain Allah pada pihak pertama, Muhammad juga punya kekasih berikutnya yaitu  para sahabat. Yakni mereka yang hidup sejaman dan pernah bertemu dengan Rasulullah semasa  hidupnya. Sedangkan yang tidak bernasib seperti sahabat alias yang hidup sesudah Rasulullah wafat itu  bernama umat lslam.
Para sahabat sudah jelas nasibnya. Mereka hidup bersama-sama dengan Rasulullah berjuang dan lara lapa (menderita). Rasulullah sangat mencintai mereka dan selalu mendoakan mereka. Lantas bagaimana dengan  umat lslam ini yang hidup setelah ditinggal wafat Rasulullah. Siapa yang mendoakan mereka?
Nah,  Rasulullah itu tidak tega untuk meninggal dunia tanpa meninggalkan atau mewariskan mekanisme kabulnya doa atas nasib kita semua.  Jadi bagaimana Allah akan mengabulkan doa kita kalau kita tidak melangsungkan lalu lintas segi tiga cinta  itu. Dengan begitu mencintai Muhammad yang misalnya kita ungkapkan lewat sholawat adalah penyikapan  yang logis, adil dan sewajamya saja terhadap kasunyatan perhubungan cinta antara Allah, Muhammad dan kita.
Demikianlah doa kita akan sampai arusnya kepada Allah kalau melewati Muhammad. Sebab bagaimana mungkin Allah mengabulkan doa kita kalau kepada kekasih-Nya kita bersikap acuh tak  acuh. Allah ini sangat pencemburu dan romantis. Allah menghendaki keindahan pergaulan antara diri-Nya,  Kekasih-Nya dan kita.

Sholawat membikin Akal Basah oleh Hati dan Hati Tegak oleh Akal
Untuk menjelaskan kalimat di atas kita memakai acuan salah satu ayat suci Al-Qur’an yang sudah sangat  terkenal yakni La Yamassuhu lllal Muthohharun. Ayat ini lazimnya ditafsir secara fisik bahwa kalau kita  sedang batal alias dalam kondisi tak berwudhu maka tidak diperbolehkan untuk menyentuhnya (Al-Qur’an). ltu benar  sekali, terutama dari segi fiqih.  Tetapi mari kita luaskan makna dan tafsir ayat tersebut misalnya dengan memahaminya begini: Kita tidak akan bisa bersentuhan dengan makna, hikmah, rizqi, barokah dan segala macam kandungan Al-Qur’an, jika  kita tidak mengusahakan diri kita untuk terlebih dahulu muthohhar atau tersucikan. Tersucikan itu bahasa lainnya adalah tercerahkan. Dan soal cerah mencerahkan ini Allah sudah sejak dulu  menawari manusia untuk bisa mencerahkan diri. Tercerahkan di bidang apa? Kita lihat dulu secara  sederhana struktur jiwa manusia.
Dalam jiwa manusia ada tiga sisi atau unsur terpenting yakni akal,  spiritual, dan mental.  Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa ketercerahan itu meliputi tiga sisi tersebut. Jadi tercerahkan secara akal atau muthahhar aqliyah, tercerahkan secara spiritual atau muthahhar ruhiyyah dan tercerahkan secara mental atau muthahhar nafsiyyah. Ketiganya akan memproduk ketercerahan akhlak atau muthahhar akhlaqiyyah. Umumnya orang hanya memiliki sebagian saja dari ketercerahan tersebut. Ada yang tercerahkan secara  aqliyyah tetapi tumpul secara spiritual dan mental. Ada yang tercerahkan secara spiritual (mletik hatinya), tetapi gagap secara intelektual alias sempit wawasannya serta tidak kokoh mentalnya. Juga tak ketinggalan ada yang tercerahkan secara mental tapi buta secara intelektual dan spiritual.
Demikianlah kalau kita tidak mengupayakan diri agar utuh ketercerahannya maka kita akan tidak bisa  bersentuhan dengan Al-Qur'an. Nah, bersholawat adalah salah satu jalan untuk mengutuhkan ketercerahan  itu, agar kaffah. Agar tak cuma sesisi saja. Sholawat membikin akal basah oleh hati dan hati tegak oleh  akal.

   

Sholawat Metode mengambil jarak dari Kesibukan Kerja Keras Sehari-hari.
Ketika kita suntuk bekerja atau melakukan sejumlah pekerjaan entah yang rutin atau yang tidak, umumnya  kita mempunyai kecenderungan untuk capek, jenuh dan yang terpenting barangkali juga potensial mengidapkan pada diri kita keterasingan tertentu terhadap apa yang kita kerjakan. Pada saat seperti itu yang kita perlukan tak sekedar istiharat dan rekreasi, tetapi yang terpokok adalah  pengambilan jarak terhadap situasi dan keadaan semacam itu agar kita bisa lebih mengendapkan batin dan  pikiran, supaya segar jiwa kita dan siap melanjutkan pekerjaan-pekerjaan berikutnya. Demikian siklus wajar  kemanusiaan yang dialami oleh orang. Dalam memenuhi kebutuhan untuk rekreasi dan pengambilan jarak itu orang menempuh banyak hal mulai  yang positif sampai yang negatif. Yang positif misalnya orang pergi rekreasi menikmati suasana alam di pantai atau di gunung, plesir ke luar kota dan sebagainya. Yang negatif umpamanya orang menenggak minum-minuman keras, atau berjudi.  Nah, sholawat hadir sebagai salah satu pilihan yang berposisi praktis, berdimensi dunia akherat langsung, dalam memenuhi kebutuhan untuk pengambilan jarak tersebut. Meskipun tentu saja ini hanya satu sisi belaka dari sekian dimensi sholawat yang sudah ada dan akan diuraikan singkat dalam tulisan ini.
Sholawat juga jauh lebih positif secara medis, moral-sosial, keilmuan dan ukhrawi daripada menenggak narkoba atau  bahkan dibanding nonton film sekalipun. Dengan menikmati sholawat-sholawat kita akan memperoleh  kenikmatan dan kepuasan batin yang lnsya Allah lebih ruhaniah dan sejati. Sholawat merupakan jalan yang lebih selamat dan menyelamatkan ditinjau dari berbagai sisi dan sudut.
Sholawat Membuka llmu
Sekarang kita memasuki sisi lain dari Sholawat. Selain sebagai jalan untuk mengintensifkan cinta kita kepada Rasulullah, Sholawat juga memberi peluang bagi terbukanya pintu-pintu ilmu. Lihatlah misalnya  Sholawat Nurul Musthofa.  Musthofa itu artinya terpilih. Nurul Musthofa itu berarti cahaya yang terpilih. Dan inilah makhluk Allah yang  pertama. Makhluk Allah Swt yang pertama ini adalah seberkas cahaya yang dinamai Nur Muhammad. Allah sangat mencintai makhluk pertama ini sedemikian rupa sehingga Allah mempunyai alasan untuk  menciptakan alam semesta beserta isinya termasuk kita semua. Allah mengatakan dalam hadist qudsinya, lau laka ya Muhammad ma kholaqtu al aflaka jika tidak karena engkau Muhammad - maksudnya cahaya tadi- maka aku tidak akan ciptakan apapun yang lain. Kelak cahaya ini akan diwujudkan oleh Allah secara biologis, sosiologis dan historis menjadi Muhammad Saw. Artinya diwujudkan sosoknya, sepak terjangnya  dan sejarah hidupnya. Jadi ada beda antara Muhammad jasmaniah dan Muhammad ruhaniah.
Dari Sholawat Nurul Musthofa, selain kita peroleh keindahan dan kenikmatan bercinta dengan Muhammad,  kita juga peroleh ilmu pengetahuan. Ilmu tentang apa? Ialah ilmu tentang sejarah penciptaan alam semesta.  Yang barang kali ilmu pengetahuan modern sekarang ini belum mencapai dan mengatakannya. Bahwa  makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah bukan siapa-siapa melainkan Nur-Muhammad tadi.
Sholawat Membuka Cara Pandang
Sesudah membuka pintu rahasia ilmu, Sholawat juga memungkinkan kita untuk memperoleh cara pandang  atau yang lazim disebut perspektif. Maksudnya dengan menghikmahi sholawat, kita bisa menjadikan Sholawat  sebagai pintu pengantar untuk merenungi segala sesualu yang terjadi dalam hidup kita. Lihatlah misalnya  sholawat lnna Fil Jannah.
lnna fil jannati nahran min laban, li aliyyin wa husainin wa hasan : Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang terbuat dari air susu. Yang diperuntukkan bagi Ali, Hasan, dan Husain.  Hasan dan Husain itu putra Ali bin Abi Thalib yang terbunuh di peperangan antar ummat lslam. Bahkan Sayyidina Hasan diracun oleh istrinya sendiri. Sehingga sejelek-jelek nasib kita  masih menderita Sayyidina Hasan dan Husain.
Dari Sholawat ini tinggal kita cari proyeksinya dalam hidup sehari-hari kita. Artinya sesungguhnya kita  mempunyai potensi ke-Hasan-an dan ke-Husain-an sendiri-sendiri di berbagai bidang kehidupan kita masing-masing. Dan kalau kita mengalami kedhoifan, kemustadh’afinan, keghoriban (keterasingan) dan  kemazhluman (terzholimi) sebagaimana yang menimpa diri Sayyidina Ali, Hasan dan Husain, maka itu berarti Allah  menjanjikan sungai susu di surga. Sebagaimana dalam kasus Abu Bakar menebus Bilal dari perbudakan Abu Jahal, maka dalam kehidupan  sehari-hari, kita bisa membatin dan mendiskusikan sekarang ini, siapa Hasan dan Husain-nya? Abu Jahal-nya  siapa? Orang ini akan menjadi Hasan dan Husain atau Abu Jahal dan seterusnya. Demikianlah Sholawat-Sholawat  mempunyai relevansi dengan kehidupan kita.
Sholawat: Kenapa harus dengan Alat Musik?
Pembacaan Sholawat pada acara-acara tertentu biasanya diiringi dengan (alat) musik. Kenapa memakai  musik? Karena musik berhak masuk surga. Seluruh peralatan-peralatan musik itu kita ajak mencintai  Rasulullah. Kita tidak egois dalam bersholawat. Jadi, prinsipnya sangat sederhana. Bukan soal  mencampur-adukkan antar seni dan agama. Sebab perlu diketahui begitu agama lahir belum terbedakan, apakah ini seni atau agama. Pada awalnya tak ada beda antara keduanya.
Kata seni baru muncul ketika orang-orang (modern) mencoba menarik dan mengambil jarak dari dirinya  sendiri kemudian menatapnya dari kejauhan., lantas mereka mengatakan dan merumuskan dirinya sendiri  seraya memunculkan nama-nama untuk memberi tanda bagi bagian-bagian hidupnya. Maka muncullah  istllah: ini seni, ini sosial, ini hukum dan lain seterusnya. Dalam keberagaman yang total sudah tak terasa lagi apakah ini agama atau seni. Yang menjadi masalah dan tentunya adalah apakah sesuatu itu benar atau tidak? Apakah sesuatu itu semakin mendekatkan kita  kepada Allah dan Rasul-Nya atau tidak?
Sholawat: Merintis Perlawanan Terhadap Dajjalisme
Kita tentu pemah mendengar nama Dajjal. Dajjal itu salah satu pekerjaannya adalah membelah dunia dan  kehidupan manusia menjadi dua kutub. Dua kutub inilah yang menjadi poros dan titik tolak dari cara  pandang dan cara tindak banyak orang. Ada Timur ada Barat. Ada Utara ada Selatan. Ada atas ada bawah. Ada pusat ada pinggiran. Dan seterusnya. Kutub-kutub ini sangat rentan untuk membenihkan bibit-bibit perlawanan antar penghuni kutub, membenihkan bibit-bibit kerusakan di antara mereka. Dajjal adalah pelaku utama yang memberikan dan menentukan apa muatan yang musti dikandung bibit-bibit itu. Pengkutuban ini berlaku di berbagai bidang kehidupan manusia, mulai dari ekonomi, sosial, budaya, politik, dan seni. Dalam kesenian misalnya pengkutuban tersebut bisa terlihat dari adanya mekanisme produsen konsumen, pedagang-pembeli, penonton-yang ditonton.
Dalam acara-acara Sholawat kita mencoba untuk tidak memakai cara berpikir seperti pertunjukkan dengan  menghancurkan batas antara keduanya. Tak ada penonton, tak ada pementasan. Yang ada adalah  kebersamaan, saling mensubyeki acara Sholawat. Artinya, kita semua adalah satu himpunan, satu keluarga. Tidak sebagaimana dalam pertunjukkan modern itu.  Itulah beda antara acara Sholawatan (yang bersama-sama) dengan dunia seni modern.
Sholawat: Fungsi Secara Biologis dan Medis
Orang lain boleh percaya atau tidak tentang satu hal ini. Bahwa Sholawat itu mempunyai fungsi biologis dan medis. Dengan membaca dan menikmati Sholawat, kita apalagi dengan berjamaah, kita akan memperoleh  regangan-regangan otot dan pencerahan-pencerahan urat syaraf serta pembersihan sel-sel otak. Kita  mencoba merasakan dan membuktikan hal itu. Sama dengan kalau kita bersujud. Kita meletakkan kening kita di tanah. Debu-debu tanah yang menyentuh dan mengenai dahi kita itu akan membersihkan kotoran-kotoran elektronik di dalam otak kita. Sehingga  semakin rajin kita bersujud akan semakin jemih pikiran dan otak kita. Kecuali jika kita merusaknya lagi. Di sini letak pentingnya ilmu. Banyak orang bersembayang tetapi tetap saja rusak dan tidak menghasilkan munculan-munculan yang bermanfaat di masyarakat. Apa pasalnya? Soalnya mereka bersembahyang  tanpa dilandasi dan dilengkapi dengan ilmu - dalam pengertian yang lebih luas dari fiqih. Mereka hanya  menjalani dan mengalami rahmat shalat tapi tidak mengilmui-nya sehingga yang lahir bukannya barokah  melainkan ketidakmanfaatan dan ketidak-kaffahan dalam menempuh hidup. Itulah sebabnya di samping melakukan dan menikmati (rahmat) Sholawat, kita juga mengembarai cakrawala  ilmu Sholawat yang amat luas, mulai dari yang sederhana sampai yang menyangkut hal-hal medis dari Sholawat yang orang lain belum tentu menyetujuinya, agar bukan hanya rahmat yang kita punya, tapi  juga barokah - sebagaimana tulisan ini diniatkan dan tujukan.
wallohu a'lam. 

Jumat, 24 Desember 2010

Semakin Kaya Dengan Memberi

Memberi itu indah. Memberi itu ekpresi cinta. Memberi itu air mata ketulusan. Memberi itu sebuah pengorbanan dan keikhlasan. Memberi itu sebuah kekayaan.

Memberi itu indah, seindah sungai-sungai cantik di surga dan tenangnya hati ketika bermunajat pada Rabb Semesta Alam. Bagaimana tidak, ketika Allah menjanjikan, "Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah sebaik-baik Pemberi Rizki." (QS. 34:39).

Kemudian Allah memberi kabar gembira kepada orang-orang yang mau berjihad dengan harta dan jiwa bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa dan di masukkan ke Jannah-Nya yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar. " (Qs. 61:10-12)

Keindahan yang hadir tidak dapat diekspresikan dengan untaian kata, ia adalah abstrak, hadirnya di sini... Dihati dan relung jiwa...Ia adalah ungkapan syukur dan gejolak cinta pada sesama...

Memberi itu ekspresi cinta. Cinta itu indah. Keindahan itu hadir karena adanya rasa saling sayang dan memberikan yang terbaik. Ya... Memberi adalah ekspresi cinta. Ada apa dengan cinta...? Ah... Tidak ada apa-apa dengan cinta...

Ketika seorang ibu dan ayah, dengan susah-payah, bermodalkan peluh, malu dan doa, rela bekerja siang malam, sampai di ujung masa klimaks ikhtiarnya tak kunjung hadir apa yang diusahakannya, akhirnya meminjam pada tetangga, kerabat atau perusahaan, karena berusaha memberikan apa yang dibutuhkan buah hati penyejuk jiwa. Itulah cinta...

Ketika seorang suami, bekerja keras siang dan malam, karena hanya satu tekad yang hadir dalam dirinya bahwa ia harus menjaga dan memenuhi hak sang penyejuk hati, menjaganya dari kajahatan tangan-tangan jahil, demi menunaikan amanah Allah. Itulah cinta...

Ketika seorang isteri, rela menjadi pelepas lelah belahan jiwanya dan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkannya, memberikan kasih sayangnya.itulah cinta...

Ketika seorang Abdurrahman bin `Auf rela memberikan 700 kendaraan hartanya kepada fakir miskin di Madinah. Itulah cinta...

Cinta begitu sulit digambarkan dengan kata-kata...Ia adalah abstrak.namun ia adalah nyata dengan ekspresi sikap. Dan... Memberi itu adalah cinta....

Ternyata tidak ada apa-apa dengan cinta...

Memberi itu pengorbanan dan keikhlasan.
Ketika seorang sahabat, meskipun sulit, tetap berusaha keras membantu kesulitan saudaranya... Karena ia yakin barangsiapa yang memudahkan urusan saudaranya, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia maupun diakhirat.

Ketika seorang ibu, rela tidur tengah malam karena membuat baju untuk anaknya, mempersiapkan pernak pernik kebutuhan suami dan anak untuk pagi hari, tanpa mengharapkan apa-apa selain senyum manis dari yang disayanginya dan ridho Allah.

Ketika seorang ibu menahan sakit dan mempertaruhkan nyawa demi hadirnya sang buah hati dengan selamat dalam sebuah pejuangan proses persalinan.

Memberi itu air mata ketulusan.
Ketika seorang ibu, menitikkan air mata karena dapat membelikan baju dan sepatu baru untuk sekolah sang buah hati....

Ketika seorang relawan menitikkan air mata karena dapat berbuat sesuatu bagi saudaranya yang kesulitan...

Ketika seorang dermawan menitikkan air mata melihat wajah sumringah anak-anak yatim ketika mendapat belaian sayang dan "bingkisan syurga..".

Memberi itu sebuah kekayaan...
Secara matematika manusia, memberi berarti berkurang jumlah dan modal... Tapi tidak bagi Allah... Memberi adalah kekayaan, tabungan yang semakin bertambah dan bertambah terus... Semakin banyak memberi maka tabungan semakin banya.

Wallohu A'lam Bishawab

Memadu Kasih di taman ISLAM



Islam tidak menafikan adanya perasaan saling mencintai antara sesama manusia, sebab hal itu merupakan fitrah manusia.

KEDUDUKAN CINTA

Umat secara keseluruhan sepakat bahwa cinta pada
Allah dan Rasul-Nya adalah wajib. Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan maqam tertinggi dari berbagai maqam yang ingin dicapai oleh para pengembara menuju Allah. Semua maqam yang ingin diraih adalah buah dari cinta kepada Allah.

Dasar cinta seorang hamba kepada Allah adalah firman-Nya:

"Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah" (Al Maidah:54)
"adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah" (Albaqarah:165)

'katakanlah, jika Bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, serta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk pada orang-orang yang fasik' (At-Taubah:24)

Islam tidak menafikan adanya perasaan saling mencintai antara sesama manusia, sebab hal itu merupakan fitrah manusia. Secara naluri ia mencintai istri, keluarga, harta dan tempat tinggalnya. Namun, tidak sepatutnya sesuatu yang bersifat duniawi ini lebih ia cenderungi dan ia cintai dibanding Allah dan Rasul-Nya. Jika ia lebih mencintainya, maka berarti tidak sempurna imannya dan dapat terjerumus pada dosa terbesar yakni musyrik. Mencintai Allah dan Rasulnya merupakan jalan menuju keselamatan. Dalam sebuah hadits dikatakan:

�Tatkala seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang hari kiamat, beliau menjawab dengan sebuah pertanyaan, 'Apa yang sudah engkau persiapkan untuknya?' orang itu menjawab 'tidak lain kecuali bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya'. Rasulullah Saw menjawab, 'Engkau beserta orang yang engkau cintai'. (H.R. Bukhari Muslim)
Cinta yang tulus adalah keimanan yang benar

Cinta hamba kepada Allah merupakan hal yang bisa mengangkatnya ke maqam dan derajat yang tinggi, sempurna, dan suci. Kedudukan yang tinggi ini menuntut sang hamba untuk berkorban demi kekasihnya, sebagaimana yang berlaku pada setiap orang yang mencinta. Sang pecinta harus rela mencintai objek cintanya dengan sepenuh hati dan fikiran. Ia harus sanggup berkorban demi yang dicintai dengan penuh suka cita. Ia juga harus lapang dada dan rela atas segala yang kurang berkenan dirasakan dari kekasihnya, juga harus sabar atas segala ujian yang menimpanya karena cinta itu.

Mengapa demikian, karena cinta, sebagaimana yang lazimnya terjalin antara sesama manusia, merupakan sebuah jalinan di luar nalar dan pengetahuan. Ia merupakan kecenderungan dan emosi yang berada di atas kehendak dan keinginan.

Setiap diri kita bisa saja mengenal dan tidak ada masalah dengan si Fulan, atau mengetahui dan senang dengan suatu benda, akan tetapi itu saja tidak cukup untuk menamai perasaan kita itu sebagai cinta. Perasaan cinta lebih dalam pengaruhnya dari itu. Ia lebih mengharu biru dan merampas hati. Bahkan cinta sejati adalah yang tidak memberikan ruang kosong dalam hati., tidak memberi jalan sedikitpun dalam jiwa bagi yang lain selain kekasih.

Jika telah sampai pada tingkat demikian, maka cinta kepada Allah itulah keimanan yang hakiki. Keimanan yang hakiki bukanlah sekedar pengetahuan dan ketundukan jiwa. Dengan kata lain, iman yang benar adalah imannya sang pencinta yang bergairah kepada Allah, yang bahkan bisa memabukkan dan melupakan diri sendiri. Cinta yang pengaruhnya tampak pada seluruh ucapan, tindakan dan sikap.

Adapun keimanan yang gersang, yang dingin dan pasif, yang tidak melampaui sekedar ketundukan jiwa dan pernyataan lisan, tidak pula tampak pengaruhnya pada aktivitas yang positif, maka itu bukanlah keimanan yang dikehendaki Allah dari hamba-Nya.

Seorang mukmin yang hakiki adalah orang yang memahami keindahan dan keagungan Allah, mengetahui kasih sayang dan kebaikan Allah. Disamping itu, ia meyakini sepenuhnya bahwa Allahlah satu-satunya pemberi nikmat dan anugerah. Tiada nikmat kecuali bahwa Dialah sumbernya, tiada anugerah kecuali dari-Nya. Dengan kesadaran ruhani seperti inilah ia mencintai-Nya. Hatinya sibuk memikirkan-Nya. Seluruh aktivitasnya ditujukan kepada-Nya semata. Kelezatan yang ia rasakan hanya ada dalam ketaatan kepada segala perintah-Nya. Ia memiliki kesempatan untuk menunaikan tugas dari-Nya, dengan senang dan bahagia, damai hatinya dan tegap langkahnya. Jika sang kekasih yang dicintai berbuat baik kepadanya, diterimanya kebaikan itu dengan rasa syukur, baik dengan lisan, hati maupun perbuatan. Jika ia mendapati kesulitan dalam perjuangan mencapai ridha-Nya, ia tegar, berlapang dada, dan sabar tanpa keluh kesah dan perasaan kecewa.

Mengapa kita mencintai Allah?

Dengan sedikit renungan, kita akan mendapatkan kesimpulan bahwa Allah SWT Dzat yang paling berhak untuk dicintai. Dia lebih patut menjadi labuhan hati dibanding orang tua, anak, bahkan diri sendiri.

Hal yang paling mudah difahami oleh akal fikiran, mengapa kita hanya patut mencintai-Nya adalah karena anugerah nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Kenikmatan yang seluruh manusia tenggelam di kedalaman samuderanya, yang mengiringi manusia dalam hirupan nafas dan detak jantungnya, yang menyertainya di setiap tempat dan waktu, yang bersama keluasan dan keabadiaannya semata bersumber dari Dzat Allah Swt.

Untuk mengingatkan hamba-hamba-Nya akan nikmat ini, Allah Swt berfirman: �Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan menghitungnya ��(An-Nahl:18)

Rasulullah Saw bersabda:

�Cintailah Allah karena nikmat yang dianugerahkan kepada kalian, cintailah aku karena cinta kalian kepada-Nya, dan cintailah ahlulbaitku karena cinta kalian padaku�. (HR. Tirmidzi dan Al-Hakim).

Wahai sahabat, apakah patut dan masuk akal jika kita menikmati semua ciptaan-Nya, mulai dari cahaya, indahnya waktu pagi dan petang, harmoninya ciptaan seluruh mahluk nan menakjubkan, bumi dan langit yang bisa dimanfaatkan, sebagaimana firman-Nya, �� yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian��( Al-Baqarah:29)

Dan juga firman-Nya, �� dan menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin� , tetapi mengapa kita tidak menunaikan syukur dan tidak pula mengerti kadar nilainya?

Apakah tidak berpengaruh dalam hati kita, bagaimana luas nikmat-Nya dan bertebaran ihsan-Nya, yang kekuasaan-Nya menyilaukan orang yang memandang. Nikmat-Nya adalah keagungan yang tidak dapat diidentifikasi, ilmu yang tiada satu biji atompun di langit dan di bumi yang tidak terdeteksi, dan kearifan yang mencermatkan seluruh makhluk yang dicipta-Nya.

Maka berbahagialah orang yang mencium aroma keelokan-Nya dan mampu menangkap cahaya pancaran keindahan-Nya. Berbahagialah orang yang dapat meneguk anggur kenikmatan-Nya meski bercampuran. Memang, seringkali kita menangkap sesuatu namun tidak memahami substansinya. Seorang penyair bertutur:

Sesuatu yang sering memabukkan orang,
Adalah sesuatu yang disebutnya sebagai kecantikan,
Namun aku tiada pernah mengerti apakah itu

Sebagian ahli hikmah pernah berkata kepada para muridnya, �seluruh manusia sungguh merindukan Allah. Tahukah kalian mengapa demikian? Itu karena mereka merindukan kebajikan yang tiada batas, kesempurnaan yang tiada bertepi, keindahan yang tiada terukur. Semua hanyalah ada pada Allah SWT�.

Bukankah matahari, makhluk yang tampak paling menonjol, paling elok, dan paling hebat yang pernah engkau lihat, hanyalah pantulan dari cahaya-Nya?

Sungguh, pada matahari itu tersirat tanda-tanda keagungan, keindahan, keperkasaan, dan kehebatan penciptanya. Kita bisa membaca tanda-tanda keagungan itu di sana. Dengan itu semua kita bersimpuh dan bersujud.

Jika kita mencintai seseorang karena pemberian dan kebaikannya, karena akhlak dan sifat-sifat terpujinya, maka sungguh kita lebih patut mencintai sumber nikmat dan kemurahan itu.

Bahkan seandainya mereka telah mampu merasakan betapa nikmat cinta-Nya, maka mereka akan disibukkan perhatiannya oleh gejolak perasaan ini hingga menjadi pecinta yang menikmati asyiknya memadu kasih.

Mereka yang menjaga dan menghindarkan diri dari buaian syahwat dengan tujuan hanya mendekatkan diri pada Allah.

Wallohu A'lam Bishowab

Seseorang yang sedang belajar untuk mencintai-Nya
Daftar pustaka: Memadu Cinta di Taman Islam, Ahmad Nashib Al-Mahamid

Rabu, 22 Desember 2010

The Best I Ever Had

Ketika manusia terlahir di dunia percayalah ia tidak datang dengan kebetulan. Keberadaannya merupakan hasil karya yang begitu mengagumkan proses pembentukannyapun begitu menakjubkan, ada sentuhan sentuhan atas dasar kekuasaan yang tiada tara , kun fa ya kun - jadilah maka jadilah, tentunya tidak secara ajaib manusia itu terbentuk ada proses penciptaan sebaik-baiknya bentuk tersebut .tak ada cela dan tak ada yang mampu menandingi kesempurnaan ciptaan Rabbul Izzaati,
Manusi adalah makhluk yang di ciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk , ia tercipta berbeda dengan makhluk bumi lainnya ia lah pemegang amanah besar dunia ini yakni khalifah fil ard. Peranannya didunia tak lepas dari peran besar seorang sosok perkasa yang di beri nama ibu� kepadanyalah muara kasih berlabuh.
Tatkala seorang insane baru terlahir dalam keadaan tidak mengetahui apapun dan Allah mengenugrahkan kepadanya pendengaran, penglihatan dan hati agar ia bersyukur (QS. An-Nahl 16 : 78) maka siapalah yang pertama-tama merespon dan menjadikannya berdaya guna selain ketelatenan seorang Ibu�
Allah special menitipkannya kepada seorang perkasa sejak dalam kandungan mula, Allah jadikan Rahim ( tempat yang Kokoh) sebagai tempat bernaungnya individu baru,
Tampak jelas begitu susahnya keberadaan makhluk asing di tubuh manusia yang bernama wanita, namun adakah dari mereka yang sudi berkeluh kesah marah atas karunia terbesar dari Rabbnya itu� ia hanya mampu mendesah lelah namun percayalah desahnya, keluhnya, lelahnya serta kucuran keringatnya tak berarti urung mengandung, ia masih saja sempat tersenyum, dan berharap-harap kapankah sang buah hati itu terlahir.. resahnya ia menanti semakin menguatkannya untuk tetap mampu bertahan memberikan yang terbaik untuk jabang bayinya.
Belum lagi saat sakitnya melahirkan yang merupakan perjuangan seorang wanita diantara hidup dan mati� insya Allah pahala besar bergulir di setiap desah nafasnya.
Dan perjuangannya tak berhenti saat itu, Allah masih saja mempercayakan kepadanya untuk menjadikan individu baru itu sebagai sosok yang dirindui oleh alam semesta. Insan shaleh/ sholehah dambaan ummat, yang senantiasa berbakti kepada Rabbnya menjalani setiap tuntunan dari Rasulullah SAW.
Dan pada saat itu sosok ibulah yang terbaik dalam perannanya, ialah yang memiliki keistimewaan perjuangan meskipun tak seistimewa Siti Asiyah Dan tak setangguh Aminah. Kasih sayang Ibu merupakan puncak nurani tertringgi atas dasar 9 perasaan dan 1 akal kedudukannya begitu istimewa. Hal tersebut menampik segala kejadian yang di luar akal sehat, ibu tega membuang anaknya ? atau bahkan pemperdagangkannya? Biadab diamanakah nurani ditempatkan, mengapakah jeritan hati itu di khianati, mengiris kisi kisi jiwa ! pedih�
Kemanakah keistimewaan rahiim itu di hempaskan,hanya saja unsure Rahiim ( sayang) itu tak pernah ada yang membuangnya, masih saja tersimpan pada hati-hati manusia sekejia apapun ia, namun kisi hati yang memuatnya terlalu pekat untuk menampakan cercahan nurani itu.
Namun percayalah, ibu masih tetap sosok yang terbaik, ketika tindakan sekeji apapun terhadp anaknya ia lakukan ada keresahan yang tak mampu ia redam, ia tak mampu mengelak ia sedih, ia menyesal�
Seorang Ibu tak pernah ingat peluh resahnya ketika ia hadapi masa sulitnya melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya , harap cemasnya tak mampu terbayar dalam harga semahal apapun, Ibu terlalu istimewa , tak pernah terbayang dalam benaknya untuk menuntut imbalan atas segala pengorbanan, ia pun tak pernah berharap suguhan penghormatan untuk setiap perjuanggannya . Ibu hanya menginginkan anaknya mampu berjuang menghadapi getirnya hidup, ia hanya ingin anak-anaknya tersenyum bahagia, tak peduli dengan desahnya yang kian hilang ibu selalu begitu�
Dalam do'anya Berkah Allah senantiasa mengalir, namun ia tak pernah harapkan bayaran atasnya, sujudnya di atas sajadah yang kian basah oleh derai tangisnya adalah sebuah tanda ia tak pernah berhenti uraikan rasa harap kepada Rabbnya untuk keselamatan anak-anaknya di dunia dan Akhirat.
Dan ia hanya sedikit menghiba � semoga anak-anakku dapat menjadi investasi kehidupanku di akhirat��
Itu lah Ibu, Rasulullah menempatkannya paling utama hingga ia menyebutnya sebanyak tiga tali sebagai tanda penekanan begitu mulianya sosok wanita perkasa itu, setelah itu baru ayah� maka apa lagi yang menghambat kita untuk senantiasa berbakti kepada nya, kepada keduanya, tak perlu resah akan keberadaannya yang tak lagi di dunia karena kesempatan untuk itu masih terbuka lebar dengan upaya kita mendo'akan kebaikannya di akhirat. 

Oh�Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hati ku�.

Sekali lagi ia lah sosok yang istimewa, ia lah yang tebaik yang pernah setiap orang miliki , The best I ever Had�.

Selasa, 07 Desember 2010

...:: Alangkah Bahagianya Hati ::..

SEBAGAI lelaki normal, aku sangat mengaguminya. Selain berparas ayu, dia hampir memiliki segala kelebihan yang memang sangat patut dikagumi, terutama oleh para lelaki yang mendambakan kenikmatan cinta yang sejati.
Kalau bicara, tutur katanya halus, lembut, dan indah. Dia hampir tak pernah sekali pun merajuk sebagaimana umumnya gadis-gadis sebayanya. Dia juga tak pernah bermanja-manja kepada siapa saja. Dia pun tak pernah mengumbar emosinya sehingga uring-uringan, marah, memaki, mengumpat, menghina, mencela, dan sebagainya sama sekali tak pernah dia lakukan. Dia memang nyaris sempurna sebagai seorang manusia,
sebagai seorang gadis, sebagai seorang anak, sebagai seorang sahabat, dan sebagainya. Masya Allah!!!
“Aku sangat mengagumimu dan mencintaimu. Lahir dan batin. Jasmani dan rohani. Hidup dan mati. Dalam suka maupun duka,” kataku berterus terang, dalam suatu kesempatan tatap muka dengannya.
dengan lirih dia ungkapkan bahwa dia sayang dan cinta kepadaku....alngkah Bahagia dan besar Ni'mat allah seketika dia mengungkapkannya langsung sekian lama ku tidak dapat bertatap muka secara langsung dengan-nya lama dulu awal bertemu mendapat tawa dan candanya pun itu hanya kurang dari 10 menit dirumah yang sederhana dengan nuansa acara silaturahim pondok semua santri pondok, PONDOK tercinta Darul'Ulum.

Ni'mat Allah dapat berada didekatnya dan mengungkapkan semuanya....Thankz to Allah AzzaWajalla.
Dikutip dari: http://ade-tea.blogspot.com/2011/05/kursor-diikuti-jam-dan-tanggal-v2.html#ixzz1eUnkIGUV